Menabung Untuk Menikah


Dedi (27) telah menemukan calon pendamping idamannya. Dalam waktu dekat dia harus segera melamar dan menikahi Melati. Karena itulah syarat yang diajukan oleh perempuan yang telah berhasil memikat hatinya. Hati yang sedang berbunga-bunga tiba-tiba gundah. Dedi belum punya cukup uang untuk membiayai semua itu. Sebagian hasil kerjanya selama ini dihabiskan untuk memenuhi hasrat jiwa mudanya untuk bersenang-senang. Dia tidak pernah menganggarkan dana untuk membuat tabungan pernikahan, karena merasa belum punya calon. Alhasil ketika panggilan jodoh telah datang, Dedi kebingungan setengah mati.

Hal tersebut tidak akan terjadi kalau saja Dedi lebih berpikir jauh ke depan. Mengingat datangnya jodoh adalah rahasia Allah yang manusia tidak ketahui kapan waktunya, maka sepatutnya dipersiapkan sedini mungkin. Itulah mengapa menabung sangat penting. Karena biasanya uang yang harus dipersiapkan untuk menikah tidak sedikit. Apalagi kalau menginginkan pesta mewah bak raja dan ratu.

Menabung adalah cara yang paling baik dan bijaksana untuk mempersiapkan pernikahan. Dengan mengumpulkan uang sedikit demi sedikit, kapan pun jodoh datang tak perlu resah. Hanya tinggal menyesuaikan antara keinginan dan dana yang tersedia.

Kenapa harus menabung?

Pertama, tentu saja untuk membiayai semua keperluan pernikahan. Mulai dari proses lamaran sampai resepsi. Besar kecilnya dana yang dibutuhkan untuk menggelar sebuah pernikahan sangatlah relatif. Tapi yang jelas, untuk menikah harus tersedia sejumlah uang. Untuk itulah harus dikumpulkan sedikit demi sedikit dengan menabung.

Kedua, untuk meringankan beban orangtua. Di budaya kita, biasanya orangtua lah yang menanggung sepenuhnya biaya pernikahan sang buah hati. Tapi menurut perencana keuangan Febiola Aryanti, RFA, ada baiknya kalau anak turut berkontribusi untuk membiayai pernikahannya sendiri. Ini sebagai bentuk tanggung jawab anak terhadap dirinya sendiri.. Karena sejak bayi sampai dewasa orangtua lah yang mengurus dan mengeluarkan biaya. Jadi tak ada salahnya kalau untuk pernikahan, anak turut berperan sebagai wujud bakti kepada orangtua.

Dan yang ketiga adalah untuk menghindarkan diri dari berutang. Pada sebagian besar masyarakat kita, masih ada kebiasaan berutang untuk menutupi biaya penyelenggaraan pernikahan. Umumnya berutang dijadikan jalan keluar demi terselenggaranya pernikahan. Alasan yang paling banyak dipakai adalah uang yang tidak cukup untuk menggelar resepsi. Padahal kurang atau tidaknya uang tergantung pada mewah atau tidaknya pesta yang diinginkan. Itu artinya ada sebuah faktor yang dijadikan tolak ukur yaitu gengsi. Inilah yang disayangkan oleh Febiola. Karena menurutnya yang perlu diperhatikan dalam sebuah pernikahan adalah esensinya. Semakin mempertimbangkan gengsi, maka akan semakin bergeser dari esensi. Islam adalah agama yang senantiasa mempermudah. Tidak ada perintah untuk bermewah-mewah dalam menggelar sebuah pernikahan, yang penting adalah keabsahannya. Memang Rasulullah menganjurkan bahwa sebuah pernikahan haruslah diumumkan, tapi bukan dengan kemewahan. Karena keinginan untuk bermewah-mewah dikhawatirkan akan menimbulkan sifat riya.

Managing Partner dari biro perencanaan keuangan keluarga Prosperitas Financial ini mengimbau calon pasangan pengantin dan orangtuanya agar tidak tergoda untuk berutang. Karena menurutnya, sangatlah tidak bijaksana apabila memulai kehidupan baru dengan berutang. Pernikahan merupakan sebuah awal dari kehidupan baru, bukan puncaknya. Jadi ada baiknya tidak dimulai dengan sebuah masalah yaitu utang. Memang akan terlihat lebih mudah untuk mendapat sejumlah uang dengan meminjam kepada sanak saudara atau bank. Tapi dibalik semua itu, ada efek negatif yang bisa merugikan. Pertama, utang harus dibayar. Jangan menganggap enteng masalah pembayarannya, karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Bukan pesimis, tapi mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Dan kalau sampai terjadi, akan sangat berat sekali bagi pasutri dan keluarga intinya yang baru saja menyesuaikan diri satu sama lain. Karena masalah uang adalah salah satu pemicu ketidakharmonisan hubungan keluarga.

Kedua, suami tidak bisa maksimal menafkahi keluarganya karena penghasilannya setiap bulan harus dipotong untuk membayar utang. Ketiga, pasutri akan kehilangan banyak waktu dan uang untuk menabung dan berinvestasi. Misalnya saja, seseorang mengambil kredit tanpa agunan ke bank yang harus dicicil selama tiga tahun. Itu artinya dia akan kehilangan masa dan uang selama tiga tahun untuk membayar utang. Padahal uang tersebut bisa ditabung untuk kepentingan pendidikan anak atau investasi yang berguna jangka panjang.

Untuk itu, Febiola menganjurkan bagi calon pengantin dan orangtuanya untuk berpikir berulang kali sebelum mengambil keputusan untuk berutang. Pikirkanlah esensi dari pernikahan itu sendiri dengan mengadakan resepsi sesuai dengan kemampuan, dan memikirkan serta mempersiapkan kehidupan setelah pesta pernikahan usai. Jangan berpikiran bahwa ini adalah peristiwa sekali seumur hidup maka harus dirayakan sebesar-besarnya. Tapi-menurut Febiola-berpikirlah justru karena sekali seumur hidup itulah, jangan sampai utang membebani kehidupan baru yang akan ditempuh.

Sejak kapan?

Menabung untuk persiapan menikah, menurut Febiola, idealnya dimulai saat seseorang mulai mendapatkan penghasilan. Namun, bagi pekerja baru, terkadang gaji yang didapat belum memungkinkan untuk membuat tabungan itu. Untuk alasan yang satu itu, Febiola memberi solusi. Seseorang mulai menabung untuk dana pernikahan saat kebutuhan hidupnya sudah terpenuhi dan adanya peningkatan penghasilan. Tapi jangan berdalih untuk itu. Walaupun sedikit, usahakan sisihkan uang untuk menabung. Minimal membuat tabungan dana darurat. Setelah keadaan keuangan memungkinkan baru buatlah tabungan pernikahan. Kedua tabungan itu memang sebaiknya dipisahkan. Hal ini untuk mencegah terkuras habisnya tabungan untuk membiayai pernikahan. Jadi jangan sampai Anda menjadi ‘bangkrut’ setelah menikah.

Jangan menunggu sampai mendapat calon yang cocok dijadikan pasangan, baru Anda menabung. Itu akan membuat waktu yang tersedia tidak banyak. Karena belum tentu calon yang Anda pilih bersedia menunggu sampai Anda berhasil mengumpulkan uang bukan?

Karena orangtua juga biasanya berkontribusi dalam pembiayaan pernikahan anaknya, ada baiknya orangtua juga ikut menabung. Hal ini untuk meringankan apabila anaknya menikah kelak. Febiola menyarankan agar orangtua sudah mempersiapkan tabungan pernikahan anaknya sejak sang anak menginjak usia akil balig. Jadi apabila waktunya tiba, tidak akan memberatkan. Walaupun jumlah uang yang mungkin ditabung tidak banyak, tapi rentang waktu yang panjang akan membuat jumlah tabungan menjadi besar.

Seberapa besar?

Besaran uang yang seharusnya ditabung sangat relatif. Itu semua tergantung besarnya penghasilan yang didapat dan kebutuhan yang harus dipenuhi. Jangan merasa pesimis dengan jumlah uang yang bisa Anda tabung. Yang penting ada keinginan dan ikhtiar untuk mempersiapkan dana pernikahan. Besar atau kecilnya hasil yang didapat jangan sampai membuat Anda kecewa. Karena, itu semua hasil nyata dari jerih payah Anda selama ini. Jadikan semua itu cambuk untuk memotivasi diri agar lebih bijak mengatur keuangan Anda.

Pernikahan adalah sebuah moment yang istimewa, harus dipersiapkan dengan istimewa pula. Bukan dengan kemegahan, tapi cukup dengan kesederhanaan. Jangan gunakan tolak ukur gengsi yang nantinya hanya akan menyengsarakan. Jujurlah dengan kemampuan yang ada. Sebuah niat baik untuk mempersiapkan pernikahan sederhana dengan menabung, insya Allah lebih baik ketimbang pernikahan gemerlap dari hasil berutang. Jadi tunggu apalagi? Segeralah menabung! (RF)

Jangan Malas untuk Memulai!

Anda termasuk orang yang susah menabung? Ikuti kiat yang diberikan oleh Febiola untuk Anda:

  • Tentukan tujuan keuangan

Tentukan apa saja yang akan dijadikan gol finansial Anda. Ini akan memudahkan Anda dalam menyusun rencana keuangan.

  • Bedakan antara Kebutuhan dan Keinginan

Buat daftar apa saja yang Anda butuhkan dan inginkan. Hindari keinginan yang sifatnya konsumtif dan berlebihan apalagi kalau keadaan keuangan tidak memungkinkan.

  • Tentukan Prioritas

Tentukan prioritas dari semua yang telah Anda catat. Pastikan Anda memilih kebutuhan yang benar-benar penting dan berguna bagi masa depan Anda.

Comments
  1. Reza Rockmen says:

    wahhh…..saya bangt neh,,,thanks atas infonya??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s