Apa yang Mereka Pikirkan?

Posted: August 3, 2010 in my opinion

Dulu, saya tidak suka anak kecil. Tapi sejak memiliki anak, saya suka sekali anak kecil. Hmmm tidak suka sekali sih, suka saja, atau ya, tepatnya tidak menganggap mereka sebagai sebuah gangguan hehehe..

Baby dan anak kecil adalah makhluk Allah yang lucu sekali. Tingkah mereka kerap mengejutkan, dan juga terkadang sangat mengesalkan. Tapi saya mulai menyukai mereka. Mungkin karena naluri keibuan yang telah diberikan Allah kepada saya.

Karena naluri itu pulalah, saya sama sekali tidak bisa mengerti kalau ada orang waras yang tega melayangkan tamparan dan pukulan kepada anak kandung mereka sendiri.

Di suatu sore yang cerah, yang seharusnya tidak ternodai oleh kejadian buruk apa pun, saya tengah duduk di depan warung milik ibu saya, yang kebetulan ada di pinggir jalan yang agak besar. Ketika sedang asyik bercanda dan bercengkrama dengan keluarga, saya dikejutkan oleh teriakkan seorang laki-laki yang mengumpat dan jerit tangis seorang anak memohon ampun. Laki-laki tersebut, yang adalah ayah kandung dari anak yang menangis itu, mengejar anak perempuannya, yang baru berusia sekitar 6 tahun, sambil mengacungkan tinjunya dan berteriak, “Dea, jangan kabur lo! Sini gue hajar lo!” Dan dengan pilunya si anak berlari sambil menjerit ketakutan, “Ampun bapak, jangan dipukul Pak.” Pandangan semua orang yang ada di sekitar tempat itu pun beralih ke adegan dramatis tersebut. Sayangnya tidak ada yang berani melakukan apa pun, karena di Indonesia ini, masalah KDRT dianggap sebagai masalah pribadi. Dan kami, yang ada di tempat kejadian, juga sudah sangat paham, kalau anak itu memang kerap mendapatkan perlakuan kasar dari kedua orangtuanya, ayah maupun ibunya. Sosok terakhir itu membuat saya bergidik ngeri. Tak pernah terbayangkan bahwa saya akan melakukannya kepada buah hati saya kelak. Memang ada beberapa orang yang memaklumi tindakan kasar kedua orangtua anak tersebut kepada anaknya. Pasalnya, anak tersebut terkenal nakal. Tapi kenakalannya tersebut bisa jadi merupakan akibat dari kekerasan yang selama ini diterimanya. Dan setelah adegan kejar-kejaran bak film action itu, akhirnya si anak berhasil diseret oleh ayahnya. Kami tidak tahu seperti apa nasibnya ketika masuk ke dalam rumah. Bayangkan saja, kalau di area publik saja dia berani melakukan tindakan kasar tersebut, apalagi di area pribadi seperti rumahnya sendiri?

Tadi pagi, di hari ini, saya melihat lagi, dengan langsung kekerasan yang dialami anak. Dan dilakukan oleh ibunya sendiri. Si ibu membonceng anaknya di depan dengan sepeda motor, tampak si ibu sedang memarahi anaknya, dan dalam hitungan detik, tangan kanannya langsung memukul telinga kanan si anak perempuan lucu, yang masih bersekolah TK. Entah menangis atau tidak anaknya itu, tapi pasti rasanya sakit sekali. Karena saya pun langsung merasa sakit ketika melihat adegan itu berlangsung di depan mata saya sendiri. Saya langsung memeluk erat Jovita, yang saat itu sedang dalam gendongan saya seraya berdoa lirih, “Ya Allah berikanlah hamba kesabaran yang mahaluas dalam merawat dan mendidik Jovita. Meski apa pun yang terjadi, jangan biarkan hamba melayangkan tamparan atau pukulan ke badannya yang mungil. Kelak, jika dia mengecewakan saya sekali pun, mohon bimbingan-Mu untuk memberikan pengertian lewat tutur kata yang halus, bukan dengan cacian atau pukulan.”

Kejadian tersebut, barangkali, hanyalah sebuah contoh kecil dari sederet kasus kekerasan terhadap anak dan bayi. Baru-baru ini ada seorang bayi berusia 2 minggu yang kehilangan nyawanya di tangan ibunya sendiri. Sebelumnya ada ibu yang tega menghabisi nyawa anaknya sendiri (udah kaya program kriminal aja bahasa saya nih hehehe…) dengan menggigit dan memukuli anaknya yang berusia balita. Dan ada pula ibu yang tega meracuni semua anaknya, karena khawatir tidak mampu membiayai masa depan anaknya. Dan masih banyak lagi, kejadian serupa yang membuat saya merinding.

Saya sebenarnya alergi mendengar atau membaca berita-berita semacam itu, tapi yah insting manusia memang selalu ingin tahu bukan? Jadilah saya sambil menutup kuping menyaksikan berita mengerikan itu di layar kaca.

Sampai saat ini, saya tidak mengerti apa yang ada di pikiran para orangtua, khususnya ibu, yang melakukan semua kekejian terhadap anak mereka sendiri. Rasa sakit ketika melahirkan anak saya mungkin menyebabkan saya menjadi over sensitif atau apa. Rasanya sangat tidak masuk akal, kalau rasa sakit yang dirasakan ketika akan melahirkan sang buah hati harus dibayar dengan kematiannya di tangan kita sendiri. Dan saya rasa, semua manusia yang masih punya otak dan hati juga sependapat dengan saya.

Jadi apa yang ada di pikiran mereka sebenarnya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s