Berdamai dengan Kegelapan

Posted: December 24, 2008 in reviews

blindpower_iklan-copy

Eko Ramaditya Adikara, panggil saja dia Rama. Seorang pemuda berusia 27 tahun. Dia seorang blogger, wartawan, game music composer, penulis, juga editor. Profesi tersebut tidak terdengar asing dan istimewa di telinga kita. Namun tidak bagi Rama, karena dia seorang tunanetra. Rama berkarya dalam kegelapan.

Meski demikian, Rama pantang dikasihani apalagi diremehkan. Dan sebaiknya pun Anda tidak melakukannya. Karena Anda akan merasa sangat bodoh. Dengan keterbatasan yang dimilikinya, Rama membuktikan bahwa seorang tunanetra tidak hanya ‘berbakat’ memijat! Pada tahun 2003, Rama menciptakan blog-nya, http://www.ramaditya.com. Pewajahan, isi, dan musik latar dia kerjakan sendiri.

Deretan kegiatan Rama yang lain akan membuat Anda tercengang dan berdecak kagum. Rama ikut dalam penataan musik Nintendo video games, Super Smash Brothers Brawl yang dirilis pada bulan Februari 2008. Karya komposisi musik yang dibuatnya sudah lebih dari 100 jumlahnya. Tiga di antaranya dipakai dalam Final Fantasy VII.

Tidak hanya sederet prestasi yang pernah diraihnya yang dia tuliskan dalam autobiografinya ini. Rama pun berbagi cerita tentang kegiatannya sehari-hari. Bagaimana dia naik angkot untuk berangkat ke kantor, pergi ke luar kota sendirian tanpa ada yang mendampingi, kena tonjok orang di bis, sampai pengalamannya jatuh cinta dan menjalin hubungan istimewa dengan perempuan.

Membaca buku ini bukan membuat kita merasa beruntung sebagai orang awas. Justru membuat kita merasa malu. Seperti yang dikatakan Eko Kuntadhi, Pimpinan Redaksi Mobile Magazine, bahwa Rama dan sederet karyanya membuat kita malu. Sebagai orang yang dilahirkan dengan keadaan fisik lengkap, sudah berapa banyak karya yang kita hasilkan?

Karena buku ini memuat pengalaman seorang tunanetra dalam menjalani kehidupannya, maka tak adil rasanya kalau teman-teman tunanetra yang lain tidak dapat menikmatinya. Makanya buku ini pun akan diterbitkan dalam huruf braille.

Menyerah pada keadaan ketika kita masih punya banyak pilihan adalah sebuah dosa. Itu yang saya dapatkan setelah selesai membaca buku ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s